Harga : Rp.3.000
Durasi : 08 Menit 12 Detik
Dibacakan : Arrie Nugraha
Penulis : Wikipedia
Kategori : Biografi dan Memoar
ISBN : 9786021472961
Tipe : Buku Audio
Diterbitkan : November 2
Abdulrahman Saleh
Abdulrahman
Saleh, Prof. dr. Sp.F, Marsekal Muda Anumerta, (lahir di Jakarta, 1 Juli 1909 –
meninggal di Maguwoharjo, Sleman, 28 Juli 1947 pada umur 38 tahun) atau sering
dikenal dengan nama julukan "Karbol" (Karena berbagai ciri
keunggulan, seorang dosen Belanda-nya sering memanggilnya dgn sebutan
'Krullebol' (Si Kriting yang Cerdas) Krullebol inilah yg dilafalkan menjadi
Karbol di lidah orang Indonesia, adalah seorang pahlawan nasional Indonesia,
tokoh Radio Republik Indonesia (RRI) dan bapak fisiologi kedokteran Indonesia.
Abdulrachman
Saleh dilahirkan pada tanggal 1 Juli 1909 di Jakarta. Pada masa mudanya, ia
bersekolah di HIS (Sekolah rakyat berbahasa Belanda atau Hollandsch Inlandsche
School) MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau kini SLTP, AMS (Algemene
Middelbare School) kini SMU, dan kemudian diteruskannya ke STOVIA (School Tot
Opleiding van Inlandsche Artsen). Karena pada saat itu STOVIA dibubarkan
sebelum ia menyelesaikan studinya di sana, maka ia meneruskan studinya di GHS
(Geneeskundige Hoge School), semacam sekolah tinggi dalam bidang kesehatan atau
kedokteran. Ayahnya, Mohammad Saleh, tak pernah memaksakannya untuk menjadi
dokter, karena saat itu hanya ada STOVIA saja. Ketika ia masih menjadi
mahasiswa, ia sempat giat berpartisipasi dalam berbagai organisasi seperti Jong
Java, Indonesia Muda, dan KBI atau Kepanduan Bangsa Indonesia.
Setelah ia
memperoleh ijazah dokter, ia mendalami pengetahuan ilmu faal. Setelah itu ia
mengembangkan ilmu faal ini di Indonesia. Oleh karena itu,Universitas Indonesia
pada 5 Desember 1958 menetapkan Abdulrachman Saleh sebagai Bapak Ilmu Faal
Indonesia.
Ia juga
aktif dalam perkumpulan olah raga terbang dan berhasil memperoleh ijazah atau
surat izin terbang. Selain itu, ia juga memimpin perkumpulan VORO (Vereniging
voor Oosterse Radio Omroep), sebuah perkumpulan dalam bidang radio. Maka
sesudah kemerdekaan diproklamasikan, ia menyiapkan sebuah pemancar yang
dinamakan Siaran Radio Indonesia Merdeka. Melalui pemancar tersebut,
berita-berita mengenai Indonesia terutama tentang proklamasi Indonesia dapat
disiarkan hingga ke luar negeri. Ia juga berperan dalam mendirikan Radio
Republik Indonesia yang berdiri pada 11 September 1945.
Setelah
menyelesaikan tugasnya itu, ia berpindah ke bidang militer dan memasuki dinas
Angkatan Udara Ia diangkat menjadi Komandan Pangkalan Udara Madiun pada 1946.
Ia turut mendirikan Sekolah Teknik Udara dan Sekolah Radio Udara di Malang.
Sebagai Angakatan Udara, ia tidak melupakan profesinya sebagai dokter, ia tetap
memberikan kuliah pada Perguruan Tinggi Dokter di Klaten, Jawa Tengah.
Gugur
Bersama Pesawat Dakota VT-CLA
Pada saat
Belanda mengadakan agresi pertamanya, Menjelang bulan Juli 1947 dr.
Abdulrachman Saleh bersama-sama dengan Adisutjipto mendapat tugas dari
pemerintah untuk pergi ke luar negeri yaitu ke India. Tugas ini untuk mencari
bantuan luar negeri berupa instruktur dan obat-obatan. Seorang industrialis
India bernama Pat Naik meminjamkan pesawatnya jenis Dakota untuk tugas
mengangkut obat-obatan bagi PMI. Dalam tugas ini terjadi peristiwa yang sangat
menyakitkan bangsa Indonesia yang terjadi pada sore hari tanggal 29 Juli 1947.
Pada hari itu bertolak dari Singapura pesawat Dakota India VT-CLA ke Yogyakarta
dengan membawa obat-obatan sumbangan dari Palang Merah Malaya untuk Palang
Merah Indonesia. Pemberangkatan pesawat tersebut telah mendapat persetujuan
pemerintah Inggris dan pemerintah Belanda.
Tanggal 28
Juli 1947 pers dan radio Malaya telah menyiarkan berita bahwa sebuah pesawat
Dakota VT-CLA dengan muatan obat-obatan akan tiba keesokan harinya (29 Juli
1947) di Yogyakarta. Katanya sudah memperoleh persetujuan dari Pemerintah
Belanda. Namun kenyataannya ketika pada siang hari menjelang sore pesawat udara
yang mengangkut obat-obatan ini hendak mendarat di Pangkalan Udara Maguwo dari
arah Utara muncul dua buah pesawat Mustang Belanda. Secara bertubi-tubi peluru
dimuntahkan ke arah pesawat Dakota VT-CLA, pesawat ini kehilangan ketinggian
dan membuat pendaratan, ke arah Selatan kota Yogyakarta. Pesawat membentur
pohon, patah menjadi dua dan terbakar, hanya bagian ekornya saja yang masih
utuh. Semua awak pesawat dan penumpang meninggal dunia kecuali seorang
penumpang yang kebetulan duduk di bagian ekor pesawat yang masih hidup.
Penumpangnya, temasuk dr. Abdulrachman Saleh, Adisutjipto, Adisumarmo
Wiryokusumo, Zainal Arifin, pilotnya Alexander Noel Constantine (Wing Comander
Australia), Squadron Leader Inggris Roy Hazelhurst, juru teknik India Bidha Ram
dan Ny. Constantine, sedangkan yang selamat yakni Gani Handonotjokro.
Masyarakat
Yogyakarta tidak menyangka sama sekali bahwa pesawat terbang tersebut berisi
orang-orang penting yang membawa obat-obatan, mereka hanya mengira bahwa
serangan itu memang sesuai dengan siasat musuh yang akan membom Yogyakarta. Di
kalangan AURI ada anggapan bahwa apabila pesawat tersebut dikemudikan oleh Pak
Adisutjipto dan Pak Abdulrachman Saleh sendiri yang mengenali udara kubu-kubu
musuh dan daerah-daerah di sekitar Yogyakarta dengan baik, mungkin tak sampai
terjadi peristiwa yang menyedihkan itu.
Tetapi
bagaimanapun juga kejadian ini merupakan suatu musibah yang sangat menyedihkan
seluruh rakyat Indonesia, AURI khususnya. Betapa tidak, pahlawan-pahlawan
pembina dan tulang punggung penerbangan kita telah tiada. Ini semua adalah
pengkhianatan Jenderal Spooe, yang secara biadab dan pengecut telah
memerintahkan untuk menyerang pesawat Dakota VT-CLA jenis angkut yang tidak
bersenjata, sehingga tidak berdaya untuk membela diri. Akhirnya pesawat jatuh
di desa Tamanan, kecamatan Banguntapan, dekat desa Ngoto, Bantul, Yogyakarta.
Usaha ini
memang sejak lama menjadi rencana Belanda yakni untuk melumpuhkan tenaga-tenaga
inti dari penerbangan kita. Kota Yogyakarta berkabung dengan jatuhnya pesawat
Dakota VT-CLA, peti-peti jenazah ditempatkan berjejer di Hotel Tugu. Pada hari pemakaman,
rakyat penuh sesak di sepanjang jalan Malioboro untuk memberi penghormatan
untuk terakhir kalinya pada pahlawan-pahlawan penerbangan kita. Jenazah dr.
Abdulrachman Saleh dimakamkan di pemakaman Kuncen, Yogyakarta
Peristiwa
heroik ini, diperingati TNI AU sebagai hari Bakti TNI AU sejak tahun 1962 dan
sejak 17 Agustus 1952, Maguwo diganti menjadi Lanud Adisutjipto.
Abulrachman
Saleh dimakamkan di Yogyakarta dan ia diangkat menjadi seorang Pahlawan
Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia
No.071/TK/Tahun 1974, tanggal 9 Nopember 1974.
Pada tanggal
14 Juli 2000, atas prakarsa TNI-AU, makam Abdulrahman Saleh, Adisucipto, dan
para istri mereka dipindahkan dari pemakaman Kuncen ke Kompleks Monumen
Perjuangan TNI AU Dusun Ngoto, Desa Tamanan, Banguntapan, Bantul, DI
Yogyakarta.
Nama Ia
diabadikan sebagai nama Pangkalan TNI-AU dan Bandar Udara di Malang. Selain
itu, piala bergilir yang diperebutkan dalam Kompetisi Kedokteran dan Biologi
Umum (Medical and General Biology Competition) disebut Piala Bergilir
Abdulrahman Saleh.
Mengharapkan
semua lulusan Akademi Angkatan Udara dapat mencontoh keteladanan dan mampu
mencapai kualitas seorang perwira seperti Abdulrachman Saleh, para taruna AAU
dipanggil dengan nama Karbol. Hal ini pertama kali diusulkan oleh Letkol Saleh
Basarah setelah beliau mengunjungi United States Air Force Academy di Colorado
Springs, Amerika Serikat. Para kadet di sana dipanggil dengan nama Dollies,
nama kecil dari Jenderal USAF James H Doollitle, seorang penerbang andal yang
serba bisa. Ia penerbang tempur Amerika Serikat yang banyak jasanya pada Perang
Dunia

Komentar
Posting Komentar